Asing Borong Saham BBRI Rp 759 Miliar Hari Ini!

IHSG dikabarkan menguat pada penutuan perdagangan pada hari Kamis 23 September 2021, hal tersebut terjadi karenna aksi beli bersih investor asing serta emredanya kecemasan pasar terhadap sentimen Federal Reverse.

Data yang dikeluarkan oleh Bloomberg mencatat bahwa pada pukul 15.00 WIB, IHSG berada pada posisi 6.142,71, dan mengalami kenaikan sebesar 0,56 perse atau setara dengan 34,45 poin sehingga menjadi 6.142,71.

Investor asing diketahui membeli saham dari PT Bank Rakyat Indonesia TBk atau BBRi sebesar 759,2 milliar rupiah, sehingga mencatat pembelian terbanyak hingga penutupan.

Pembelian terbanyak kedua setelah BBRI di tempati oleh BBCA dengan netbuy sebesar 170,6 miliar rupiah dan juga BUKA senilai 146,6 milliar rupiah.

Dari situ tercatat sebanyak 260 saham menguat, dan 257 saham melemah serta sebanyak 146 saham terlihat hanya bergerak di tempat. Investor asing sendiri mebukukan net foreign buy sebesar 897,22 miliar rupiah.

Sementari itu, juga terdapat saham yang dijual oleh investor asing yaitu BBNI dengan net sell terbanyak mencapai 66,8 miliar kemudian disusul urutan kedau adalah BABP sebanyak 42,6 milliar rupiah.

Untuk top gainers diisi oleh ASPI dengan kenaikan mencapai 33,78 persen ke harga 99, lalu pada urutan berikutnya terdapat saham HRUM dan GPRA yang masing-masing sahamnya menguat 19,91 persen dan 17,65 persen.

Selain saham yang menguat, terdapat saham yang melemah paling tajam adalah BACA dengan koreksi sekitar 7 persen ke angka 372 dan disusul oleh KOTA yang turun sebanyak 6,74 persen dan CBMF dengan koreksi 6,67 persen.

Sebelumnya, direktu dari MNC Asset Management yaitu Edwin Sebayang mengatakan bahwa indeks dari Dow Jones Industrial Averages atau DJIA di Amerika bisa rebound 1 persen setelah turun selama 5 hari.

Hal itu seiring denga pernyataan yang dikeluarkan oleh ketua The Fed yaitu Jerome Powell yang lebih mengarah kepada kebijakan suku bunga.

“Tercermin lewat sembilan dari 18 pejabat Fed siap untuk menaikkan suku bunga tahun 2022 sebagai respons atas kenaikan inflasi yang diperkirakan mencapai 4,2 persen pada tahun ini, lebih dari dua kali lipat dari target yang ditetapkan 2 persen serta The Fed menyatakan kemungkinan akan mulai mengurangi pembelian obligasi bulanan (tapering) segera setelah November,” tulis Edwin dalam riset harian, Kamis 23 September 2021.  

Selanjutnya, kombinasi penguatan DJIA, EIDO, dan sejumlah harga komoditas disebut menjadi katalis penguatan IHSG pada hari ini.